Setelah berjuang melawan penyakit kronis yg sudah sejak lama diderita, akhirnya malam tadi tepat jam 00.00 nurani harus menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dan seiring dengan kematian nurani itu pula pemerintah resmi mengumumkan kenaikan harga BBM sebagai tanda atas perginya nurani dari hati para pemimpin negara. Nurani pemerintah memang sudah sejak lama menderita sakit parah dan telah diperkirakan kalau penyakit itu tak mungkin bisa disembuhkan. Sang waktu akhirnya menjawab perkiraan itu.
Dan seiring dengan kematian nurani itu, maka mata, telinga dan hati pemerintah secara otomatis tak akan lagi bisa berfungsi alias mengalami disfungsional. Tak akan ada lagi tangisan & permohonan rakyat yg sampai ketelinga pemerintah, tak ada lagi pemandangan menyedihkan yg akan mengena di hati pemimpin. Yang tersisa hanyalah para pengkhianat negara yang selamanya akan tetap dan selalu memperdagangkan rakyatnya. Yang tersisa hanyalah para pemimpin bodoh tanpa hati nurani. Yang saya khawatirkan, pemimpin tanpa nurani pastinya akan lebih kejam dari psikopat (kalo nggak bisa dibandingkan dengan binatang).
Dan hari ini saya berduka cita sedalam-dalamnya atas kematian itu. Entah kapan akan lahir kembali nurani baru yg lebih bersih, lebih peka terhadap derita rakyatnya, nurani yg membela fakir miskan daripada para konglomerat dan pengusaha asing.
Saya mendoakan semoga rakyat Indonesia tabah atas kehilangan ini.