Semasa kecil dulu, saya selalu menyukai hujan. Hujan yg turun kecil², bukan hujan yg disertai angin dan halilintar. Bila hujan turun, saya akan berlari keluar rumah dan bermain² dibawah guyuran hujan. Waktu itu saya menyukai tetesannya yg jatuh diatas permukaan kulit saya. Hingga waktu ini, saya masih menyukai hujan meskipun saya tak lagi pernah bermain² bersamanya seperti dulu.
Beberapa waktu yang lalu, hujan juga yang membawa saya pada sebuah pertemuan dengan seseorang. Laki² yang menyimpan sebuah telaga bening dalam kedua bola mata. Telaga yang membuat saya ingin berenang dan tenggelam hingga kedasarnya.
“Maaf mbak, boleh ikutan payungan nggak?” pintanya sambil tersenyum penuh harap saat asyik menikmati tarian hujan sambil menunggu kendaraan umum yang akan membawa saya pulang. Terkejut. Saya menoleh kearah suara disamping saya dan mata saya langsung tertumbuk pada sebuah telaga bening dalam sepasang mata. Sedetik, sebelum saya balas tersenyum dan berkata, “
Boleh.” Dan itulah awal mulanya, 3 tahun yang lalu. Tapi sampai detik ini saya masih menyimpan detailnya dalam setiap sel² di otak saya.
Obrolan² ringan dan tetesan hujan menemani perjalanan saya & dia sore itu. Sikapnya yg ramah & cerita2nya yg lucu mampu menghangatkan sikap saya yg cenderung dingin terhadap orang asing. Kebetulan, kami menunggu kendaraan umum yang sama. Entah kenapa saya tidak keberatan ketika dia meminta nomor telepon pribadi saya. Selanjutnya adalah telepon dan sms darinya yang menyapa saya hampir setiap hari.
Namun demikian, saya tidak mengajaknya masuk dan tinggal lebih jauh dalam kehidupan saya. Saya hanya mengajaknya duduk & berbincang² diberanda hati. Dan tampaknya dia-pun cukup nyaman hanya duduk disana tanpa pernah mencoba untuk masuk atau sekedar mengetuk pintu hati saya. Tak ada ucapan cinta atau kata² manis penuh bujuk rayu. Obrolan kami hanya sebatas pembicaraan tentang cerita diseputar kantor, tentang film, tentang sepakbola, tentang gunung yg pernah saya & dia daki, tentang musik, buku, tentang keinginannya menjadi seorang ahli komputer yg ditentang orangtuanya, tentang cerita² lucu atau tentang apa saja, kecuali tentang isi hati masing². Pembicaraan kami hanya sebatas dipermukaan, tak pernah menyentuh dasar hati kami masing². Tapi saya begitu menikmati kebersamaan itu dan tak pernah berharap lebih atau kurang. Dia laki² yg pandai bercerita & selalu membuat saya tertawa. Bagi saya, melihat riak² kecil yg muncul diatas telaga pada saat dia tertawa adalah sebuah kenangan tersendiri.
Sampai suatu ketika…
Disuatu senja yg gerimis, diberanda pelataran rumah saya, kami berbincang² sambil menatap titik² air yg jatuh kebumi. Lembut, nyaris tak nyata, namun sejuknya cukup terasa.
“Saya harus pergi” ucapnya pelan.
Dan itulah akhirnya. Itulah gerimis terakhir yg saya nikmati bersamanya karena beberapa minggu kemudian, laki² dengan mata bening itu harus pergi kesuatu kota di seberang pulau. Meneruskan usaha keluarga yang mau tidak mau harus dijalaninya. Sekarang, telaga itu sudah menemukan muara hatinya. Seorang wanita yg berasal dari kota tempat dia menjalankan usaha. Dan saat ini mereka sedang menantikan kelahiran buah hati yg pertama.
Namun begitu, saya masih tetap menyukai hujan. Saya masih menyukai irama tetesannya yang membentuk sebuah melodi ditelinga saya. Halus, indah namun tetap meninggalkan sebuah misteri dalam kebisuannya. Saya mengagumi tariannya yang membentuk untaian benang² perak yang dijatuhkan dari langit. Setiap kali hujan turun, rangkaian kenangan tentang laki² bermata bening itu kembali segar dan bermekaran dalam ingatan. Saya tidak tau apakah laki² ramah bermata bening itu menyimpan kenangan tersendiri tentang hujan. Ah, saya tak peduli. Saya hanya bersyukur boleh mengenal seorang laki² ramah dengan mata sebening telaga.
Meskipun hujan tak lagi turun, saya masih bisa membayangkan riak² kecil yg muncul diatas telaga. Dan pada saat saya menulis catatan ini, saya tak tau, apakah memang hujan sedang turun atau hanya air yang membasahi kelopak mata saya.
“Catatan ini buat kamu, seseorang diseberang gapaiku. Meskipun hanya sekejap, namun kehadiranmu mampu memberi warna…’
« Read less