Too Cool for Internet Explorer

Semasa kecil dulu, saya selalu menyukai hujan. Hujan yg turun kecil², bukan hujan yg disertai angin dan halilintar. Bila hujan turun, saya akan berlari keluar rumah dan bermain² dibawah guyuran hujan. Waktu itu saya menyukai tetesannya yg jatuh diatas permukaan kulit saya. Hingga waktu ini, saya masih menyukai hujan meskipun saya tak lagi pernah bermain² bersamanya seperti dulu.

Beberapa waktu yang lalu, hujan juga yang membawa saya pada sebuah pertemuan dengan seseorang. Laki² yang menyimpan sebuah telaga bening dalam kedua bola mata. Telaga yang membuat saya ingin berenang dan tenggelam hingga kedasarnya.

Biasanya, jadwal saya begitu sampai di kantor adalah menyalakan komputer dan mengunjungi situs berita online. Dan menu berita utama santapan pagi saya biasanya adalah seputar sepakbola dan motogp. Setelah kenyang dengan menu utama kesukaan saya, saya beralih kehalaman lain yang berisi tentang berita  seputar kejadian² yang baru2 ini terjadi di tanah air. Saya menyebutnya menu penutup :)

Pagi itu, saya benar2 lapar informasi mengenai kekalahan AC Milan dari Genoa dan kemenangan Valentino Rossi di sirkuit terbaru di motogp, Indianapolis hari minggu kemarin. Saking penasarannya saya atas kekalahan itu, saya rela sarapan diatas meja kerja saya dan mengabaikan ajakan teman² saya untuk sarapan bersama di pantry. Begitu sampai dihalaman utama situs berita online, sebelum saya masuk kebagian berita olahraga, mata saya tertumbuk pada sebuah judul berita yg ditulis dengan huruf besar “Insiden Zakat Pasuruan - 21 Tewas dan 16 Orang Luka-luka”

Judulnya kenapa bisa seseram itu ya? Tiba2 saja, rasa penasaran saya tentang AC Milan and Valentino Rossi terkalahkan oleh rasa penasaran saya pada judul berita yang baru saja saya baca. Selanjutnya saya klik judul berita tadi untuk mengobati rasa penasaran saya.

Aarrggh…
Terkutuklah kau cinta!
Tahukah kau, seberapa keras aku mencoba menghindarimu,
seberapa dalam aku membencimu jiwa dan raga,
seberapa nista sumpah serapahku untukmu…
Namun ketika kau datang mengetuk dipintuku
yang bisa kulakukan hanyalah memejamkan mata,
membuka pintu untukmu seraya terisak diam-diam.

  • Closed