Nyatanya, tak ada kedalaman rasa yg cukup longgar untuk menyisipkan segenggam cinta seperti yang dulu pernah kupunya.
Sekali waktu, dua kali waktu, beribu-ribu kali waktu, bahwa ketegaran ekspresiku tentang cinta masih tetap bertahan, berbanding terbalik dengan kerapuhan rasa yg masih kusandang.
Setiap kali aku mencoba untuk bertahan, maka setiap itu pula aku merasa hatiku rapuh, luluh. Terkadang jiwa menjadi lelah, jengah, penat tak terkira… Tapi kenyataan terlanjur kuat membelengguku.
Hingga momen ini aku masih merasa letih, perih, tak kuasa membasuh pedih.
Malam ini, eksistensiku luruh. Segala rasaku rapuh, diterjang oleh badai figurmu yang datang, melanda dan melenyapkan semua keinginan menjadi debu-debu kecewa.
Sungguh, terlalu berat bagi manusia biasa sepertiku untuk merasa bahwa cinta sejati itu ada
- Closed