Sampai sekarang saya masih nggak ngerti, kenapa ya dari ribuan polisi yang ada di Indonesia ini, belum pernah saya nemu 1 (pls note, hanya 1) polisi yg bikin saya kalem, aman & smily. Apa mungkin karena saya ada potensi jadi penjahat, makanya saya nggak pernah bisa bersahabat sama polisi? Whatever. Pokoknya setiap kali topik yg dibahas soal polisi, bawaan saya jadi sewot. Sumpah deh. (Ya Tuhan, semoga saya nggak bertindak anarkis selama menulis postingan ini).
hukum (euugh, berat banget gw nyebut “penegak hukum”). Sebenernya gak cuma sekali ini, tapi berhubunga kejadian lain sudah saya anggap basi, jadi saya cuma ingin menceritakan kejadian yg masih segar, fresh from hell. hehehe. Tapi tunggu! Saya punya
kejadian yg udah lama banget tapi amat membekas dalam memory saya. Begini kejadiannya… Dulu sewaktu kuliah saya pernah “ngendon” di kantor polisi selama 2 jam cuma gara2 gak bawa kartu identitas (KM & KTP) karena harus buru2 nganter teman ke stasiun. Saya ditanya ini itu. Pokoknya waktu itu saya diinterogasi sama 3 atau 4 orang polisi. Euugh.. trust me guys, sitting for 2 hours in office station was killing me. Lamanya kaya’ 2 ribu thn cahaya. Kalo gak percaya buktiin aja sendiri. Belom lagi polisi2 mupeng yg nanya macem2 diluar konteks seperti, “Udah punya pacar belom?”, “di YKPN mahasiswanya cakep2 ya?” (Ya iyalaaaah, liat aja tuh buktinya ada didepan muka bapak). de el el, de el el. And i was totally violated. Yet i kept calm, confronted myself from killing them all. Itulah sebabnya saya nggak pernah bisa melupakan kejadian itu. Terpatri dengan baik di ingatan saya. Undeleted. Saya berjanji akan menceritakan pengalaman buruk itu kepada anak cucu dan orang2 terdekat saya supaya jangan sampai ada salah satu dari mereka yg bercita2 jadi polisi. Awas!!!
Dan malam minggu kemarin, saya kembali mengalami another tragedy with policeman. Waktu itu saya dan seorang teman sedang dalam perjalanan pulang dan waktu menunjukkan pukul 00.45. Kami melewati jalan pajajaran yg (sialnya) saat itu sedang ada razia kendaraan bermotor… (fyuuuh, untung bukan razia orang jelek). Teman saya yg sudah sangat mengenal karakter saya kalo berhadapan sama polisi menatap saya dengan pandangan khawatir saat melihat raut muka saya yg tiba2 menegang ketika seorang polisi meminta mobil kami menepi.
“Dont worry. Everything’s gonna be fine” katanya menenangkan.
Saya cuma diam sambil memandang seorang polisi mendekati mobil kami. Diseragamnya tertulis nama “Mahmud” (hadoooh… kenapa juga gak ada polisi yg namanya high-end dikit. Kayak Rully kek, benny, atau nicholas gitu. Ewww..)
Dan ritual pun terjadi. Teman saya diminta menunjukkan surat mobil, sim & KTP. Saya cuma diam sambil berusaha menikmati lagu yg sedang diputar. Tried to be relax. Everything seemed to be OKAY, until the policeman pointed his sousage-like finger at me, asking “Kalo mbaknya itu bawa KTP nggak?”
Tanpa ba bi bu, saya segera mengeluarkan KTP dr dalam dompet dan mengulurkannya ke tangan polisi itu. I tried to keep calm, tapi teman saya bilang waktu itu wajah saya seperti seorang cewek yg memergoki cowoknya selingkuh. hahaha…
Si Mahmud memeriksa ktp saya dan sesekali melihat kearah saya. Gak lama kemudian dia mengulurkan ktp saya kembali sambil bertanya,
“Abis dari mana nih?”
“Dari pada nganggur,” jawab saya sangat pelan (tapi ketus abis) sambil mengembalikan ktp kedalam dompet. Waktu itu perasaan saya udah mulai gak enak.
“Apa, mbak?!”
Teman saya segera mengambil alih keadaan,” Dari rumah temen pak. Dia ngajak makan anggur.”
“oooh. Kalian suami istri ya?”
And the devil inside me was awoken. Eng ing eng. Jeng jeng jeng.. here I go..
“Aduuh, plis deh pak. Tadi bapak ngeliat ktp kita berdua apanya yg diliat? Kan udah jelas disitu ditulis “Status : Tidak Menikah” dan saya juga belom lama perpanjangan ktp kok”
Sampai disini, (saya pikir) saya masih bisa mengontrol bad-tempered saya, sementara teman saya menatap saya dengan tatapan plis-jangan-ngomong-apa-apa-lagi-dong.
“Jadi kamu pacaran dong?” dengan senyum sok manis padahal mah (sumpah) bikin muak.
“Nggak”
“Halaah. Iya juga nggak pa-pa mbak. Gitu aja kok takut banget sih?” dengan mulut mencibir mirip tapir.
“Iih, bapak ni polisi apa wartawan sih? Nanya yg gak penting banget. Maksa lagi. Ayo Vick, kalo gak ada urusan apa2 lagi kita cabut aja. Tiba2 gw jadi kepengen boker.”
Setelah si Mahmud mengembalikan surat2 milik teman saya, kami segera pergi dari sana.
Itu lebih baik soalnya kalo kita 5 menit lagi lebih lama disitu, maka kami akan benar2 berakhir di kantor polisi.
Dan sepanjang jalan itu saya ngomel2 nggak karuan. You see?! That’s how those officer treated us. Mereka pikir mereka jawara sehingga apapun yg keluar dr mulut mereka adalah kebenaran meskipun belum tentu bener. Smart ass!!
Saya jadi mikir, mungkin banyak org2 yg ada dipenjara sebenarnya adalah orang nggak bersalah yg “dipaksa bersalah” dan mengakui apa yg dituduhkan oleh polisi terhadap mereka. Iya nggak sih?! Bisa jadi.
Mahmud.. mahmud… nggak banget sih loe. Secara nama dan kelakuan gak ada yg bagus.
- Closed