Namanya Arjuna. Demikian saya memanggilnya.
Beberapa puluh waktu yg lalu, saya pernah mencintai dia. Dari waktu cinta itu masih saya rasa hanya seujung kuku, hingga akhirnya cinta itu menyergap dan menggerogoti sekujur tubuh saya. Merasuk hingga ketulang sumsum dan mengalir dalam setiap pembuluh darah. Hanya memikirkan tentang dirinya, mampu mebuat saya seakan berada dalam sebuah taman surgawi. Luas…. tanpa tepi.
Lantas, tanpa saya sadari dimana letak salah dan kurang dari rasa itu, tiba-tiba muncul suatu momen yang sangat meluluh-lantakkan semua konsep dan angan. Membuyarkan semua harapan yang sudah saya himpun.
Saya pikir, waktu yg berjalan itu nggak salah. Keadaan dan lingkunganpun sudah benar adanya.
Kemudian saya telusuri jauh, namun tak jua saya temukan letak dari salah yg membuat semuanya jadi meranggas.
Saya simpulkan; bahwa kita bukan jodoh!
Dengan beban rasa yang harus saya sandang, saya tapaki jalan-jalan yg kosong, lengang, dan tak berujung. Berharap agar saya bisa segera menghapus rasa kecewa yang mendera.
Ternyata, beban rasa itu kian bertambah. Mengubur dan membunuh perasaan yg pernah ada itupun tetap saja butuh energi dan kebesaran jiwa yang terlampau sulit untuk saya lampaui.
Rasa suka dan cinta yang pernah saya himpun selama berpuluh-puluh waktu terhadapnya, justru harus dibalik dengan sebuah kenyataan sekejap dipetang hari. Sungguh… Saya seperti larut dalam suatu pusaran tanpa batas. Saya kehabisan akal dan rasa untuk menelaah semuanya. Bahwa sekali ini saya punya rasa, tertumbuk pada suatu hal nyata tentang ketakutan yang membabi buta.
Tak apa, saya rela. Tuhan membuka hati saya buat menyimak setiap rasa perih yang luar biasa.
Kemudian saya mengambil sikap. Tidak untuk siapa-siapa. Tidak buat dia, tidak buat kita. Cuma untuk saya sendiri saja dan buat sebuah masa depan apapun juga warnanya. Kalaupun hati harus patah jadi dua, membiarkan diri terpuruk pada kepiluan takkan pernah ada baiknya.
Kalaupun masih saya mengikat diri pada dunia, janji dan kenangan atas cinta bukanlah segalanya. Saya tak akan pernah terima bahwa cuma karena cinta, saya harus menderita. Saya masih bisa hidup dengan atau tanpa cinta. Bahwa kenyataan terkadang menghempas rasa - itu biasa. Saya masih bisa bangkit, berdiri, meski dengan kaki yang bimbang. Saya cuma beranjak dari hakekat yang ada. Selebihnya adalah hidup nyata dengan biasa dan berbesar jiwa.
Semua derita dan tertekannya rasa atau jiwa, itu kenyataan yang harus saya terima.
Satu-satunya yang menghibur saya adalah do’a dan berpasrah diri pada hakekat semesta atas semua titah-Nya. Walau kini, lebih banyak waktu yg saya butuhkan untuk melupakan semua.
« Read less