Hari ini, masyarakat Bogor sedang mengadakan hajat besar2an. Bukan.. bukan karena merayakan hari ulang tahun saya. Tapi dikarenakan orang no. 1 di negeri Paman Sam itu akan berkunjung ke daerah saya. Tapi jelas bukan untuk menemui saya
Sebagai tuan rumah yg baik, sudah sepatutnyalah kita menghormati tamu. Tapi tamu yg baik tentu tidak akan merepotkan si tuan rumah. Bayangkan aja, untuk membiayai hajat yg berlangsung tidak lebih dr 6 jam itu, pemerintah harus mengeluarkan biaya sekitar 6M rupiah. Itu belum termasuk kerugian yg harus ditanggung oleh masyarakat bogor. Sekolah diliburkan, rumah sakit ditutup dan lembaga perbankan juga dihentikan. Dengan kata lain kehidupan di Bogor dilumpuhkan. Bogor seperti kota mati. Hmm… Keterlaluan & sangat berlebihan. Cenderung membesar2kan suatu hal tapi menyepelekan hal yg lain. Saya masih setengah tidak percaya dengan fenomena ini. Bahkan hampir seluruh program TV menayangkannya sepanjang siaran hari ini. Kebanyakan orang mencibir, sebagian orang angguk2 kepala. Sebagian orang angkat bahu menanggapi siaran itu. Sementara papa saya berkomentar kira2 begini -
[b]“Kalo emang mau nolong rakyat dunia ketiga, mbok ya jangan kasih permen. Tapi ubah dong struktur perhubungan dunia secara dia punya kekuatan super yg bisa diandalkan. Jangan jadi pemimpin yg berlagak baik padahal sebenarnya sedang menciptakan sistem perhubungan ekonomi yg menjerat negara miskin. Buntutnya, begitu penduduk miskin itu makin kelaparan, dia berlagak jadi Sayidina Umar yang membawa makanan bagi anak-anak yg menangis kelaparan karena Ibu mereka menanak batu!”[/b]
Hihihi… saya hanya tersenyum saja mendengar papa saya menggerutu begitu. Kemudian saya terlibat obrolan ringan dengan papa saya seputar tujuan kedatangan Bush ke Bogor - tapi itu nggak penting untuk saya tuliskan disini karena memang bukan pembicaraan yg bermutu
Tapi apa yg saya tangkap dari pembicaraan itu adalah sebuah contoh kecil dari apa yg dalam skala besar sering muncul sebagai kesepakatan semu, hubungan sebatas taraf permukaan saja. Papa saya menyebutnya sebagai gejala kemunafikan, tapi menurut saya, pemerintah tidak sedang “membohongi” keadaan. Mungkin ia hanya menjalankan suatu kebiasaan untuk senantiasa berbaik2 dan bersetuju-setuju dng “seseorang”, sementara persoalan yg timbul itu sendiri menjadi nggak begitu penting. Karena sejatinya, rakyat Indonesia memang masyarakat yg baik. Ramah, murah senyum, menyambut dengan penuh kehangatan, sangat nrimo dan penyetuju. Bertengkar atau mengemukakan pendapat yg berbeda bukanlah kebiasaan bangsa yg besar seperti keturunan Gajah Mada ini. Bertengkar, diam2 saja. Berbeda pendapat, disimpan sendiri2 saja. Dan ketika saling berhadapan, kita selalu penuh sopan santun dan ramah senyum. Tapi itupun bisa dibilang sebagai gejala kemunafikan tho?
Nggak taulah. Saya sedang memandangi wajah orang2 kecil dilayar kaca itu yg menjadi korban. Wajah orang2 yang sedang dikorbankan. Sopir2 angkot, pedagang kaki lima yg terpaksa tidak beroperasi karena wilayah mereka ditutup untuk umum.
Semoga pemerintah bertanggung jawab atas kerugian ini dan ada hasil yang bisa dinikmati dengan nyata pada akhirnya nanti karena rakyat kecil sudah membayar mahal untuk penyambutan ini.
« Read less